Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Outlook Indonesia di Masa Depan, Kajian Ramadhan yang Penuh Makna

Outlook Indonesia di Masa Depan, Kajian Ramadhan yang Penuh Makna

uripkuiurup.com - Rintik hujan yang turun sejak sore tak menyurutkan semangat ratusan Nahdliyin yang datang dari berbagai komunitas ke Pondok Pesantren Maftahul Ulum Jatinom, Kanigoro.

Mereka berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk mengikuti Kajian Ramadan dan Liwetan Sahur Bersama, sebuah acara yang tak hanya menghangatkan jiwa di bulan suci, tetapi juga memperkokoh nilai kebangsaan.

Acara ini digagas oleh berbagai elemen organisasi, di antaranya PC IKA-PMII Blitar Raya, PP Maftahul Ulum Jatinom, PC ISNU Kabupaten dan Kota Blitar, PC GP Ansor Kabupaten dan Kota Blitar, PC PMII Blitar Raya, Lakpesdam NU Kabupaten Blitar, serta Mata Blitar.

Dengan mengusung tema “Menjaga Pancasila: Outlook Indonesia di Masa Depan”, acara ini menghadirkan dua tokoh nasional sebagai narasumber, yaitu DR (HC) H. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga RI periode 2014-2019, serta DR H. Ibrahim Kholilul R., akademisi Universitas Indonesia dan pengurus Badan Inovasi Strategis PBNU.

Sejak petang, halaman pondok mulai dipadati peserta. Mereka datang dengan antusias, meski cuaca tak bersahabat. Sebelum memasuki sesi utama, acara diawali dengan pembacaan Surat Yasin, Al-Waqi’ah, dan Al-Mulk, disusul tahlil bersama. Lantunan doa menambah suasana syahdu, seolah menyatu dengan rinai hujan yang turun perlahan.

Menjelang tengah malam, rombongan Imam Nahrawi tiba di gerbang pondok. Kehadiran mantan Menpora itu langsung disambut hangat oleh para peserta yang berdiri memberikan penghormatan. Tak berselang lama, acara pun dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathan, yang menggema di seluruh area pondok pesantren.

Sebagai tuan rumah, Gus Ahmad Khubby Ali, Pengasuh Ponpes Maftahul Ulum, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. “Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul, sahur bersama, sekaligus mengisi malam dengan ilmu dan doa. Semoga membawa berkah bagi kita semua,” ujarnya.

Ketua PC IKA-PMII Blitar Raya, Heri Setiyono, turut memberikan sambutan mewakili panitia penyelenggara. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini.

“Semoga silaturahmi kita terus terjaga dan membawa keberkahan. Kebersamaan seperti inilah yang akan memperkuat kita dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan,” kata Hesty.

Setelah rangkaian pembukaan, para peserta disuguhkan dengan tarian sufi dari santri dan santriwati Ponpes Maftahul Ulum. Gerakan yang penuh makna itu membawa ketenangan di tengah malam yang semakin larut.

Diskusi dimulai tepat pukul 00.30 WIB, dipandu oleh Sahabati Erlin. Imam Nahrawi, atau yang akrab disapa Mas Imam, membuka sesi dengan berbagi pengalaman dan inspirasi hidupnya.

“Saya datang ke sini bukan hanya untuk berdiskusi, tetapi juga untuk bersilaturahmi, berbagi semangat, dan menguatkan kebersamaan kita,” ujarnya penuh antusias.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam menghadapi tantangan zaman. “Indonesia membutuhkan generasi yang tangguh, yang memahami sejarahnya, dan tetap setia pada nilai-nilai Pancasila,” tambahnya.

Sesi semakin menarik ketika pembicara kedua, Ibrahim Kholilul R., atau yang biasa disapa Gus Ibra, mulai memaparkan materi tentang Outlook Indonesia di Masa Depan.

Sebagai seorang ahli ekonomi, ia mengulas berbagai dinamika ekonomi global dan dampaknya terhadap Indonesia.

“Kita perlu memahami bagaimana ekonomi dunia bergerak, agar kita bisa mengambil langkah yang tepat untuk memajukan bangsa,” jelasnya.

Beberapa peserta tampak menyimak dengan serius, meski sesekali terlihat wajah-wajah yang sedikit bingung karena pembahasan ekonomi global yang cukup kompleks.

Namun, suasana kembali hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Para peserta dengan antusias mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan kedua narasumber.

Menjelang pukul 02.54 WIB, diskusi ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Ahmad Mudhofi, Pengasuh Ponpes Roudlotul Hanan Sawentar. Usai berdoa, seluruh peserta bersiap untuk melaksanakan sahur bersama dengan tradisi kenduren khas pesantren. Nasi dan lauk-pauk disajikan secara berjejer di atas daun pisang, menciptakan suasana akrab di antara semua yang hadir.

Saat sahur berlangsung, suasana semakin hangat dengan hadirnya Syauqul Muhibbin, Wali Kota Blitar. Ia turut berbaur dengan para peserta, mempererat kebersamaan dalam kebiasaan sederhana namun sarat makna ini.

Ketika adzan Subuh berkumandang, peserta bergegas menunaikan salat berjamaah, menutup rangkaian acara yang berlangsung penuh hikmah. Perjalanan panjang malam itu tak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan dan kebersamaan di antara para peserta.

Dengan wajah yang masih dipenuhi semangat, satu per satu peserta meninggalkan lokasi. Meski malam telah berganti pagi, semangat yang mereka bawa dari acara ini akan tetap menyala di hati mereka.